Dan hujan besar yang menemani kelahiranku disaat ibu lemas tak berdaya. Mereka, orang-orang yang ada disekitar gerobak tua memandang kami berdua dengan raut wajah yang tidak mengerti dan basah kehujanan. Diantara kerumunan itu darah seorang ayah yang mengalir di tubuhku tercium diantara orang-orang itu dan seakan menjadi salah satu diantara mereka, dia mengajak beberapa orang untuk mengantar aku dan ibu ke rumah sakit terdekat. Dirumah sakit, aku terpisah dari ibuku namun justru itu kebahagiaan pertama yang bisa kumengerti. Seorang suster tua yang setiap jam 6 pagi datang untuk memandikanku dan menggendongku adalah kasih terbesar. Dia meninggal di hari ke 7 di jam 7 pagi, setelah menyelesaikan harinya bersamaku. Aku tau sejak pertama dia menatapku dan mengatakan “bahwa hujan takkan lagi membasahiku dan memaksaku mandi seperti disaat kelahiran, dia menandainya di 7 hari”. Satu hal yang kusesali, aku masih tertalu kecil untuk mengatakkan padanya untuk tidak datang di hari ke 7.
Kemudian setelah beberapa lama aku terjamin di sebuah Rumah Sakit karena ketidak sanggupan ibuku untuk membawaku pulang, seorang lelaki berkacamata berperut gendut dengan bulu dada yang lebat terpamer dari lolosnya kancing pertama dan kedua dari kaitannya datang menyapaku dengan bengis “apa-apaan ini!! dasar Lacur, dia buat aku mabuk sendiri!!”. Ibuku datang tergopoh bersama seorang suster, setelah mendapat deringan panggilan dari lelaki yang bau badannya menyekakan dua rongga hidungku, aku mencium kematiaannya di hari ke 365 setelah ia berkali-kali menyiksa dan memperdayai ibuku di atas sebuah ranjang. Dijam 3 pagi, setelah melepaskan borgolan ibu, jantungnya akan berhenti dan dia akan mati dalam keadaan tanpa sehelai benang.
Disebuah kotak yang beroda, ibu menempatkan aku dibelakang di sebuah box bayi. Aku terikat disana, mereka tak memperdulikanku, mereka saling berteriak dan menyebut namaku sebanyak 3 kali, Kristal. Kami bertiga hampir saja menabrak sebuah truk semen yang berada di depan kami, lelaki itu mencoba mencekik ibu dengan dengan satu tangannya yang bertattoo tengkorak. Aku menangis sekencangnya, tetapi emosi kedua orang yang ada di depanku seakan membentengi telinga mereka. Tak lama aku diam dan tertidur karena lelah. Dalam tidur aku merasakan tangan seorang suster tua itu mendekapku dan mengusap punggungku seperti saat aku tersedak.
Di hari-hari berikutnya, di sebuah loteng sebuah rumah aku dirawat oleh seorang wanita jawa, di ajarinya aku memanggilnya si mbok, aku tau hanya dia yang akan ada dan merawat ku di 14 tahun kemudian. Ibuku, hanya sesekali datang ke loteng tempat aku bertumbuh dan menatap pergantian hari. Jendela loteng adalah sahabat terbaikku setelah si mbok dan suster tua. Jendela loteng adalah tempat terbaikku untuk menatap ibuku yang dipeluk mesra oleh lelaki yang berbeda setelah kematian lelaki yang parfumnya menyekakan kedua ronga hidungku. Aku pernah bertanya ke si mbok di suatu senja ketika langit begitu merah dan ibu berdiri di depan merah menunggu seseorang dengan bibir yang diwarnai oleh pewarna merah darah “mbok, apa ibu tau kalo mereka tidak pernah membayar dengan harga yang pantas dan mengapa ibu tak pernah mau berhenti? ” dan si mbok berkata sambil mengelus rambutku “itu agar mba kristal bisa sembuh dan tidak tinggal di loteng lagi”. Aku selalu bingung dengan kalimatnya, aku tidak pernah merasa sakit sedikitpun.
Aku tak tau arti sebuah umur, tapi yang aku tau sejak aku bisa menggunakan pensil kayu, coretan pergantian hari di dinding sudah sebanyak 5110 kali, si mbok pun juga tidak pernah bercerita apa arti umur dan apa arti nasi kuning yang dia antarkan di setiap 365 hariku. Aku ingat sekali, di setiap hari ke 365 hariku si mbok selalu mengatakan “semoga yang terbaik selalu ada di hari-hariku” dan yang aku tau memang hanya si mbok lah yang kemudian menjadi yang terbaik di hari-hariku. Nasi kuning yang paling ku suka adalah nasi kuning di hari ke 365 yang ke 8, hari itu aku memakannya dengan suasana hati yang riang, aku tau pria yang ibu tunggu tidak akan datang. Tadi pagi, pria itu dan bersama 665 orang lainya jatuh dalam penerbangan menuju Surabaya.
7 hari sebelum kematiaannya dan untuk pertama kalinya ibu duduk diranjangku dalam keadaan gelap gulita. Seseorang dengan langkah dan nafas yang berat datang mendekati kami berdua, ia datang dan mengucapkan sesuatu ketelinga ibu “jadi ini kompensasinya” dan ibu mengatakan “aku tidak punya apapun selain dia, minggu depan setelah aku selesai dari masa kewanitaanku, aku akan datang dan membayarnya”.Malam itu, aku benar-benar tidak dapat melihat apapun karena mataku tertutup rapat serapat mulutku, yang aku tau lelaki yang ada bersama kami tidak akan pernah kembali dan aku akan merasakan kekecewaan yang mendalam tentang seorang Ibu. Malam itu sesuatu telah melukai bagian dimana aku selalu menggunakannya untuk mengeluarkan air dari tubuhku. Sesuatu telah menekannya hingga aku hilang dengan sakit yang membuat darahku mengalir ke ujung kepalaku dan terbangun dalam keadaan tidak mengerti tentang sebercak darah yang sudah mengering di kain pembungkus kasur. Aku berteriak kencang memanggil si mbok dan seakan dia sudah mengerti, dia datang sambil membawa kain pengganti.
Satu malam sebelum hari ke 365 yang ke 14, aku mendengarkan si mbok menembang sebuah nyanyian jawa. Ini pertama kalinya dia menyanyi, suaranya indah sekalipun ia harus berkali-kali batuk. Diakhir nyanyiannya, dia mengatakan bahwa besok adalah hari 365 yang ke 14 dan besok adalah hari baik, jadi untuk hari yang baik dia menggatikan nasi kuning menjadi sebuah lagu jawa yang berisikan sebuah kasih dari romo. Katanya, romo adalah panggilan orang jawa untuk si pengasih dan pemilik dari jagat raya, termasuk aku. Salah satu syair yang di terjemahkan oleh simbok “datanglah kepadaku karena kasihku tak berkesudahan“. Dan paginya, ketika terbangun aku melihat si Mbok duduk berselonjor di kursi kesayangannya, wajah si mbok memucat, matanya tertutup seakan tertidur. Ku beranjak dari kasurku dan mendekatinya, aku tau dia pergi saat pergantian hari saat mimpiku tentang si mbok yang masih bernyanyi. Aku tidak tau bagaimana berterima kasih akan cintanya selain mencium tangannya dan setelah itu aku berteriak kencang memanggil ibu.
Hari-hari berikutnya, ibu menjadi sering memperhatikanku, kukatakan sering karena bukan hanya tiap pagi dia datang ke loteng dan melihatku, dia ada di setiap waktu makan dan malam sebelum dia meninggalkan ku untuk bertemu seorang pria. Dia menanti lelaki yang akan menyakitnya. Dalam kesendirianku, akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar dari loteng tempat ku selama ini tinggal. Aku berjalan perlahan menuruni tangga, dan perlahan melihat isi rumah selain lotengku. Di ujung tangga, aku berteriak kencang, aku melihat seseorang di sebuah benda. Orang itu bergerak-gerak sama dengan gerakanku, tak lama aku sadar bahwa itu adalah aku. Aku beraba benda itu seakan meraba diriku sendiri, aku mengamati tubuhku yang hanya setinggi dua langkah kaki orang dewasa, bermata sipit, berjidat lebar berkulit putih, bertubuh lebar dan berlesung pipit. Disamping benda itu ada sebuah gambar ibu, aku bergumam dalam hati, wajahku menyerupai dia. Rambut kecoklatanku pun juga menyerupai rambutnya.
Usai menatap tampilan bentuk tubuh dan rupa ku, aku berjalan dan meraba semua benda yang ada di rumah, aku berjalan ke arah pintu yang terbuka. Isi kamarnya penuh dengan kain yang si mbok pakai, aku meraba lembutnya kain pembungkus kasur dan berjalan ke sudut kamar. Di sudut kamar, aku mendapati meja dengan banyak gambar, aku melihat si mbok disana. Si Mbok duduk manis berpakaian Jawa ditemani seorang pria berkumis lebat. Di gambar itu tertulis sebuah tulisan tangan “pernikahan 1940″. Disampingnya lagi, sebuah foto si Mbok sedang menggendong seorang anak perempuan, entah berapa usianya, tapi sudah cukup besar, wajahnya seperti ibu. Disampingnya lagi ada gambar ibu bersama seorang pria, dan pria ini seperti pria yang membawa aku dan ibu kerumah sakit sewaktu aku dilahirkan saat hujan lebat. Kali pertama memandangnya aku tau darahnya mengalir di tubuhku, ini ayahku dan aku tak tau mengapa bukan dia yang menjemputku kembali dan mengapa aku tak pernah melihatnya diantara pria-pria yang menjemput ibu. Dia adalah satu-satunya yang tidak aku tau.
Aku meninggalkan meja itu dan berjalan kearah meja yang berisikan botolan-botolan yang baunya menyekakan dua rongga hidungku. Dibawah meja itu, aku melihat sebuah benda yang terbuka, benda itu teraba lembut dan berbentuk segiempat. Entah mengapa, aku ingin sekali mengambil sebuah benda yang tercium seperti bau dari teralis jendela lotengku. Benda itu sepanjang telapak kakiku, berwarna hitam memiliki pegangan dan ditengahnya seperti kaitan yang tidak mudah di tekan oleh tangan kecilku. Aku memutuskan untuk menyimpannya tanpa sepengetahuan ibu dan kembali berlari ke atas, keloteng dimana aku bisa menikmati hari melihat duniaku dari jendela loteng dan untuk pertama kalinya aku melihat ibu pulang cepat. Aku senang sekali dengan benda ini.
Malam berikutnya, aku tak melihat ibu di luar pagar rumah, seperti biasa menunggu pria. Malam ini seperti malam dimana aku tau bahwa ia tidak akan bersamaku lagi, malam dimana seharusnya aku memberi tahu ibu untuk tidak ada dirumah, tidak ada dikamarnya dan tidak ada dikamarnya. Kupikir, aku belum terlambat untuk mengatakannya, aku melihat benda yang ku simpan dari kamar ibu dan berlari turun meninggalkan lotengku. Aku tidak melihat ibu setelah menuruni tangga, aku melihat tidak ada yang berbeda, sepi seperti malam dimana aku meninggalkan loteng untuk pertama kalinya. Pintu kamar ibu pun terbuka sama seperti saat itu, namun perasaanku memaksaku untuk melangkah mendekati pintu kamar ibu. Disaat bersamaan jam besar yang berada disamping pintu kamarnya berdentang sebanyak 12 kali menemani langkah ku. Di dentangan yang terakhir aku melihat ibu bersama seorang pria bertubuh besar berperut bucit seperti lelaki yang menjemputku dari rumah sakit, mereka berdua sudah menanggalkan pakaian dan membuangnya ke lantai.
Aku berdiri lama di depan pintu, memperhatikan ibu dan lelaki itu, ibu berlaku seperti hewan berkaki empat dan lelaki itu berada di belakangnya membawa ikat pinggang dan memukulkannya ke arah ibu. Ibu berteriak dan setiap teriakkannya membuat aku teringat akan sakitnya sebuah benda yang menekanku dan membuatku berteriak kencang memanggil si mbok karena sebercak darah kering di kain pembungkus kasurku, teringat juga akan bisikan lelaki yang berlangkah berat ditelinga ibu. Aku tidak tahan melihat dan mendengarnya, jantungku berdetak kencang, aku berjalan mundur, pelan-pelan dan duduk di samping jam besar. Aku diam sambil memegang benda yang ku ambil dari kamar ibu. Aku bergetar resah di samping jam besar dan terhentak di dentangan jam, kuputuskan di dentangan ke tiga aku akan kembali dan masuk kekamar ibu.
Aku berjalan kembali ke arah pintu kamar ibu, pintunya masih terbuka tapi cahaya lampu sudah dimatikan. Dengan hati yang tak tenang dan jantung yang berdetak kencang aku berjalan mendekati kasur ibu, samar-samar aku melihat tubuh pria itu ada di sebelah kiri ranjang ibu dan ibu disebelahnya, mereka berdua tidak menggunakan pakaian apapun, aku melihat dan menginjak pakaian mereka yang di buang dilantai. Pria itu mendengkur dengan kencang, mungkin kalau lebih keras lagi lampu gantung ibu akan jatuh menimpa mereka berdua. Sementara ibu tak bersuara sedikitpun, sewaktu kudekati, wajahnya ditutupi oleh sebuah bantal dan tangan kanannya jatuh menjuntai. Aku mencoba mengambil bantalnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku kehilangannya di dentaman jam yang kedua.
Pria itu mendengkur dengan keras, mengembalikanku dari beberapa saat kehilangan ibu ku. Aku berjalan kearahnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, bau tubuh dan nafasnya menyeka dua rongga hidungku. Kudekatkan benda yang diambil dari kamar ibu ke kepalanya yang tak berambut, kukecup keningnya sebelum dengan segala kekuatanku menarik kaitan yang ada di tengah benda ini. Aku tak tau benda apa yang ada ditanganku, aku tak pernah melihat isi dunia selain dunia lotengku, tapi aku yakin benda ini akan memaafkan, membebaskan dan menghentikan pria ini. “dooorrr…” aku terhentak dan menyenggol sebuah lampu tidur disisi tempat tidur, ku biarkan lampu itu terjatuh dan pecah kemudian berjalan keluar kamar ibu dan menyanyikan sebuah tembang jawa hadiah dari si Mbok “datanglah kepadaku karena kasihku tak berkesudahan“. Aku kembali keloteng, menunggu matahari dari balik jendela, yang terakhir karena besok seseorang akan membawaku.
Aku kristal setelah indigo
adios