Anak SEVEL mana loe?

Anak SEVEL mana loe?

Pertama kali gue kenal SEVEL (baca: seven eleven) itu 2 tahun yang lalu. Diawal perkenalan dengan SEVEL, hati dan pikiran gue bergejolak banget. Seperti kencan pertama, takut “norak” sama barang baru.

 ***

Belakangan, kalau gue inget SEVEL, gue pasti inget sahabat gue yang kantornya sebelahan sama SEVEL dan jarak SEVEL ke kosannya cuma 5x koprol. Komentar awal gue, “Wehhh asik nih, SEVEL cuma sepelemparan K****T. Kalo pusing-suntuk sama kerjaan dan butuh cemilan, tinggal masuk pintu sebelah aja”. Tapi setelah beberapa bulan sejak dia masuk kerja dan mencatat setiap posisi dimana dia berada, gue mulai geli sendiri sama komentar awal gue  (baca: SEVEL again SEVEL again) #LOL.

Bicara soal SEVEL, yang ada di kepala gue adalah “Kekaguman Tingkat Dewa”. Dari sekian banyak label minimarket yang ada di Jakarta. SEVEL berdiri dengan konsep yang menjangkiti usia produktif. Dimana pada usia ini, manusia-manusianya hobi nongkrong alias ngumpul untuk berbagai alasan baik formal maupun informal. Bahkan buat gue dan sahabat gue, nongkrong berdua di SEVEL seakan nongkrong berempat, tempat yang asik untuk mengatasi demo dari Naga-naga yang berdomisili – bersertifikat resmi di perut kita dan merupakan tempat yang inspiratif banget buat nyari solusi dari masalah kita berdua. Selain itu, SEVEL seakan dunia lain yang tak berbatas pada norma dan kesehatan (baca: types of Beer and Cigarette).

Selain menjangkiti usia produktif, konsep-nya juga meng”hajar” minimarket sejenis untuk mau gak mau menyediakan yang paling tidak bangku untuk sekedar atur napas dari kemacetan dan kopi hangat sebagai penetralisir asap-polusi Ibukota. Gue pernah lihat di beberapa spot asik di Ibukota, sejumlah pesaing SEVEL mencoba ikut menjangkiti dan berperan sebagi media santai dari manusia-manusia di usia produktif. Not bad, but still Euphoria SEVEL menggiring gue untuk paling tidak jadi patokan peta jalan or janjian sama seorang teman.

Hasil pengamatan gue, peta lokasi dimana SEVEL berada bikin gue bingung, “apa ada level lain selain level “Tingkat Dewa”?” untuk sebuah kekaguman atas konsep usaha. Didaerah kantor gue yang merupakan daerah duplikatnya Kemang, ada 4 SEVEL yang setia dadah-dadah sambil komat-kamit promosi-in produk dagangannya yaitu Hotdog, Freeflow Cheese, Slurpy, Beer, Candy, Snack. Dan hebatnya ke-empat SEVEL itu selalu penuh dengan para usia produktif, gak siang dan gak malem. Sepertinya, yang punya SEVEL gak bisa liat tempat nganggur sedikit langsung jadi tempat usaha. Mungkin kedepannya dia akan seperti minimarket Al** dan Indo**** yang memiliki daya saing ketat seketat skinny jeans, lokasi usahanya bisa seberang-seberangan or sebelahan or cuma beda gang #LOL.

Terlepas dari rasa kekaguman gue sama SEVEL, gue melihat ada sisi yang menggelikan dari proses pergeseran sisi sosial masyarakat (baca: usia produktif). Nongkrong memiliki peranan penting dalam menghabiskan waktu seseorang, pembuktian dari karakter manusia yang merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Nongkrong juga berperan dalam mengempeskan kantong, karena setiap nongkrong, gue bisa berkali-kali bolak-balik beli cemilan or minuman untuk memperlancar obrolan (baca: curhatan). Selain itu dan belakangan ini, keberadaannya menghadirkan pola-pola gaya hidup hedonisms pada area terbuka dimana beragam kelas masyarakat tersebar dan berlalu-lalang. Mengutip obrolan pagi dari seorang teman sebelum mulai membaca dan membalas email yang nyebelin, dia bilang “Eiyh, gila lo anak sekarang (baca: ABG) nongkrong di SEVEL sambil bawa gadget keren (baca: IPAD, TAB, SLR, etc)”.Temen gue yang lainnya bilang “itu paha sama kelek kemana-mana, trus asep rokoknya udah kaya kereta api bikin Jakarta tambah berpolusi”. Mendadak gue teringat jamannya hedonisms di area Roti Bakar Eddy – Blok M, memang bukan jamannya Gadget, tapi genk mobil ceper dengan sound system berdaya panggung hiburan hilir mudik mengiringi setiap lahapan Indomie rebus- Roti bakar-Siomay.

Memang baik buruk selalu menjadi hasil dari perkembangan di segala bidang dan harapan menjadi sisi netral dari antaranya. Berharap bahwa suksesnya sebuah konsep usaha yang menggabungkan minimarket dan tempat duduk gratis (baca: walau kadang hanya bermodal sekaleng beer or slurpy) dapat berimbas pada konsumennya yang merupakan usia produktif. Buat gue secara pribadi, SEVEL merupakan bentuk usaha yang terlepas dari sisi manfaat juga menarik untuk dipelajari bila dihubungkan dengan prinsip pemasaran-Kotler, ke empat-empatnya (product, price, promotion and place) berperan dan terposisi dengan baik. Oh my.. gue baru aja terinspirasi buat melirik skripsi gue yang kelamaan ngadat #LOL. Disamping itu keberadaanya memberikan peluang yang bagus untuk anak-anak muda yang mau belajar mencari uang sejak dini, hahah.. gue aja pernah mau ngelamar buat bisa magang di SEVEL.

Keberadaan SEVEL diantara kita juga membuat gue sedikit sinis dengan ajang pernongkrongan anak-anak jaman sekarang. Sepintas, gue teringat pada sebuah perkumpulan local-rumahan yaitu “Karang Taruna”, rasa-rasanya gue udah lama gak denger nama itu di sebut-sebut. Dulu jaman gue sekolah, perkumpulan ini nge-hitz banget dan seperti kebanggaan tersendiri untuk para anggotanya. Besar harapan gue, kalau “Karang Taruna” itu masih ada di setiap RT/RW/Kelurahan. Paling tidak keberadaannya bisa meredam arus “tongkrongan” yang mengarah ke bentuk yang negative dan meningkatkan kepedulian sekitar yang dimulai dari ruang lingkup daerah rumah sendiri.

Gue pernah iseng di timeline twitter sama sahabat gue tanpa bermaksud “mencolek” komunitas per- SEVEL-an. Kita berdua tersadar bahwa SEVEL seakan menjadi identitas baru untuk kehidupan sekarang ini dan mungkin setelah status pernikahan di KTP, perlu dibuat informasi baru di KTP “lokasi Tongkrongan”. “Eh, anak sevel mana lo?” | “Gweh, anak SEVEL Tebet, lo? | “Guwe, SEVEL Raden Saleh” dan berandai kalau “Karang Taruna” nge-Hitz lagi, mungkin akan ada kesempatan untuk menggunakan berbagai media untuk sekedar ngoceh “Gwe anak Karang Taruna dari RW05, lo?” | “Gweh, dari RW04”.

 

Adios

 

 

 

 

TARI

TARI

Ya, aku jatuh cinta..

Dan ini diluar rencana..

Ku pikir..

Masih bisa menikmati tarian ini sendiri

Tapi sang Pelatih bilang,

Tarian ini harus dilengkapi..

DIA mencoba memberi sentuhan baru pada aransemen musiknya

Tetapi senyumnya belum mengembang..

DIA mencobanya kembali dengan gerakan tari yang baru

Tetapi senyumnya belum saja terasa pas..

Dan suatu kali DIA kembali,

Membawa seorang penari lain

Katanya, ”malam yang lalu aku melihatnya berdiri diterangi lampu jalanan, sepertinya sama halnya denganmu. Dia butuh dilengkapi..”

Kudekati dia dan kuraih tangannya..

Kurasakan semua energinya dan terasa bahwa seluruh senyawa yang dia punya mengaliriku

Tak berapa lama..

Aku mendengar ketukan-ketukan Pelatih yang bersatu dengan irama musik

Dan dia yang kuraih, menatapku

Tangannya merengkuh dan membuatku tak berjarak

Dan di ketukan selanjutnya,

Tubuhnya menarikku dan mengajakku menari mengikuti irama

Entahlah, tapi rasanya aku menari dengan senang sekalipun pada gerakan yang baru

Dan merasa ditiap ketukan Pelatih, terdengar seperti detakan jantung yang tidak berhenti

Dan musik yang mengalun seakan terus menerus menambah dan mengaransemen kembali

Ya, aku jatuh cinta..

Dan merasa, tak ada yang salah kalau itu diluar rencana..

Mungkin, tarianku memang perlu dilengkapi ..

 

 

Aku belum bisa melihat Pelatih tersenyum lebih manis dari ini, tapi yang aku tau ketukannya terasa manis dan belum berhenti

 

 

Adios.

 

 

#FORMALIN

#FORMALIN

DALAM DEFINISI

Masih teringat dengan jelas betapa Formalin begitu di benci dengan berbagai kasus yang terekspose besar-besaran di ranah ibu pertiwi oleh berbagai bentuk media masa dan pola-pola investigasinya (baca: begitu bekennya, tapi si Formalin gak dapet piala apapun). Dari sekian banyak kasus Formalin, ada satu hal yang membuat gue jambak-jambak rambut dan meratapi langit biru seakan tak percaya bahwa bakso-bakso yang begitu menggemaskan dan selalu berhasil membuat rindu gue meluap-luap itu berformalin. Maklum, gue dan kakak gue doyan banget sama makanan yang satu ini, bahkan kita pernah bela-belain melancong ke kelurahan Cipete untuk menyambangi gerobak dan mencoba bakso hasil rekomendasi sebuah blog kuliner. Hasilnya, gue mau melotot sama yang kasih rating, ini penipuan lidah namanya.

Menurut Ensiklopedia Bebas, Formalin adalah Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Menurut Dokter, Formalin itu digunakan untuk mengawetkan mayat (baca: bentuk kehidupan sebelumnya). Menurut ibu-ibu, Formalin itu bukan bumbu masakan, gak dijual dipasaran, gak pernah di diskon dan gak ada undian berhadiahnya (baca: Mangkok, Gelas, Piring, tempat makan or dll). Menurut para pedagang, Formalin adalah sebuah kesuksesan instant yang memberikan semangat untuk hidup di hari berikutnya. Sementara menurut gue, Formalin adalah daya tarik. Agak aneh sih, tapi menurut fakta di pasaran bahwa formalin di gunakan untuk memberikan daya tarik sendiri bagi makanan – makanan yang mendekati busuk-ajal-expired.

HIDUP

Dalam sebuah perbincangan sabtu siang dengan seorang lelaki tua, setelah mengomentari kejadian sekitarnya, dia mengatakan bahwa hidup itu bukan sekedar urusan bagaimana kita menjadi sukses menurut kebanyakan orang dan adu waras/sok waras di antar orang-orang yang merasa dirinya waras. Dia juga menambahkan bahwa roda itu berputar dan siapapun orangnya gak akan pernah bisa menahan roda untuk tidak berputar.

Sebuah cerita membuat gue berkaca pada diri sendiri diceritakan dengan bijak oleh lelaki tua tentang salah seorang keluarga yang sekarang sedang tersambung dengan selang infus di sebuah rumah sakit kelas menengah dengan fasilitas menengah juga. Dulu dimasa kejayaannya, hidupnya yang merupakan pribumi yang merasa berada dalam kelas barat sementara keberadaan orang lain dianggap seperti Inlander. Lidahnya cukup menyusahkan orang-orang sekitar termasuk pembantu rumah tangga si penyusun menu setiap hari. Enak dan keenakan sudah bagian dari kesehariannya sekalipun sakit, maaf tapi VIP itu pilihannya. Sekarang ketika kejayaannya meredup, seluruh penyesuaian pun dilakukan sekalipun menengah harus menjadi pilihannya. Diakhir ceritanya dia mengatakan bahwa hidup itu bagaimana kita menikmatinya dan menerima resiko dari apa yang sudah kita lakukan, bermain aman bukan jaminan tapi setidaknya mengurangi potensi sakit jantung (baca: bukan sakit jantung bawaan).

Menggelikan sekaligus menarik untuk gue secara personal, ketika esensi bagaimana menikmati hidup sekaligus bermain aman itu ditarik ke kehidupan gue. Kalau memang perputaran hidup di ibaratkan roda, roda gue bukan hanya saja menggelinding di jalanan beraspal yang mulus tapi juga di jalanan yang berbatu (baca: jalanan di Jakarta antara yang beraspal dan berbatu berbanding lurus) bahkan sering kali tiba-tiba ban kempes akibat orang-orang yang hobi menebar paku. Dengan kata lain, betapa seringnya gue bermain dan mempermainkan banyak hal demi kepentingan dan “kepuasan” pribadi, sejumlah polesan untuk menjadi-seakan terlihat baik pun sering dilakukan ibarat ban kempes yang di larikan secara emergency di tambal ban terdekat. Bahkan ali-alih tidak ingin melewati kesempatan emas, roda kehidupan mencoba di tahan dengan adegan drama.

 

#FORMALIN

Untungnya penggunaan Formalin hanya sebatas pada pengawetan mahluk hidup yang memiliki masa hidup dan daya tarik makanan yang menjelang basi/awet sepanjang masa tanpa jamur atau bakteri/senyawa pembusukan. Kalau saja di puncak kejayaannya, Formalin bisa didapatkan di pusat-pusat perbelanjaan/ supermarket terdekat dan dapat dengan mudah di gunakan sebagai pengawet dan daya tarik tambahan di kehidupan gue tanpa perlu mengalami proses kematian terlebih dahulu, tentunya bagian peristiwa-peristiwa menyenangkan dan tak ingin di akhiri bisa diselamatkan sehingga gue pun gak perlu haru biru bahkan meratapi mengapa hal-hal yang gue inginkan bukan milik gue dan gak perlu meng-gedor-gedor pintu Tuhan dengan berbagi doa yang di iringi lagu keputus-asaan sebagai manusia. Gue pun gak perlu susah-susah menghardik Dewi Fortuna yang tidak memberikan gue sedikit kejayaan sebagi karyawan teladan supaya foto gue terpajang manis-berdasi di ruang tunggu kantor atau mengancam Dewi Aphrodite yang suka pelit dalam hal perjodohan (baca: mendekatkan yang gue mau, kalau gak mau tolong dipaksa.. pokoknya buat gueeee..)

Tapi pada ke-nya-ta-an-nya Formalin saja tidak bisa memFormalinkan kesempatannya, popularitas-nya dan euphoria-nya justru membawanya pada kehancuran. Walaupun beberapa pedagang masih ada yang mencoba mencuri peluang dan mempercayakan nasib pada Formalin, seiring dengan waktu masyarakat mulai jeli dan kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Ke-nya-ta-an bahwa Formalin juga memiliki rodanya sendiri.

Ce: “Sayang, tunggu sebentar ya.. ” | Co: “kamu mau kemana?” | Ce: “kepasar, beli #formalin… ” | Co: ” buat apa?” | Ce: ” buat ngawetin cinta kita berdua..

 

adios

 

 

SINYAAAAAAAALAN!!

SINYAAAAAAAALAN!!

Saran, jangan pernah kepikiran untuk memberikan, menyelipkan dan menjadikan panggilan suku kata “Sinyal” pada nama keturunan kalian karena suatu saat akan mendapat caci-makian dan di-musuh-i tanpa sebab baik dalam bahasa ibu pertiwi atau sok barat (baca: Sinyal sialan, Sinyal eror, Sinyal kampret, Sinyal brengsek, Wrong Signal, False Signal, sinyaaaaaaaaalan..etc).

Setelah tidak terhubung seharian, akhirnya nama yang ditunggu-tunggu muncul juga di layar BB sebagai panggilan masuk. Dan seluruh percakapan menjadi tiba-tiba menyebalkan karena isinya cuma break-dance voice akibat sinyal yang tidak seperti program ABRI masuk desa. Suara di seberang sana ”hal-hal-lo-lo.. hun.. a..ku..aku.. dipu.. pu..pulau “sementara gue sebagai penunggu telepon cuma bisa bilang “hallo, hallo.. apa.. apa??!!.. putus-putus suaranya..hallo.. hallo..” dan dijawab lagi “hu-un-un..sin.. sinyal jel..jelek..sms..sms..” dan gue menjawabnya “apa..apa apaan… ngomong apa sih…” dan dijawab dengan suara kemresek “SMSSSSSS..”. “oh, sms..” jawab gue. “tuuuuutt.. tuuuttt..”

Sinyal memang kerap kali membuat para pengguna resah dan bikin naik darah, tidak hanya terpaku pada sinyal ponsel tapi juga sinyal yang ada di kehidupan. Percaya atau tidak,  sinyal kehidupan efeknya lebih parah. Maaf bukannya mau sok tau, tetapi bukan lagi sekedar SOS yang bikin tempramen dan konyol dengan mengangkat tinggi-tinggi ponsel trus di goyang-goyangin, terburuknya bisa mengakibatkan kondisi serius berujung peti mati. Coba deh di ingat-ingat lagi seberapa sering kasus bunuh diri, mutilasi, peracunan dan segala bentuk kriminalitas yang terjadi belakangan ini yang terpapar heboh di media baik media elektronik maupun cetak. Sebagai contoh kasus yang sedang terekspose di media adalah seorang lelaki pecinta sejenis dari Nganjuk-Jawa Timur yang melakukan pembunuhan sebanyak 16 orang.

Terlepas dari penyimpangan yang melekat pada kasus-kasus tersebut, menurut kekonyolan sudut pandang gue kasus-kasus tersebut terjadi sebagai akibat interpretasi dari sinyal yang salah or “Wrong-Error Signal” yang membuat depresi dan mengakibatkan lost contact “maaf nomor yang anda hubungi diluar service area” or BBM nyangkut (baca: entah nyangkut dimana). Memang tidak bisa di generalisasi, tetapi setiap pola prilaku manusia itu bisa di interpretasikan secara berbeda menurut sudut pandang yang melihat dan merasakannya, parahnya kita tidak pernah tau tingkat kestabilan dari orang-orang yang sedang menghadapinya (baca: tolong lepaskan baju pendidikan, agama dan budaya saat membaca kestabilan dalam paragraph tsb).

Ada suatu adegan dari film “Friends with Benefit” yang dimainkan dengan manis oleh Mila Kunis (Jamie) dan Justin Timberlake (Dylan), di adegan itu Jamie sedang ngobrol soal foto-foto masa kecil keluarga si Dylan dengan saudara perempuan si Dylan. Tiba-tiba Dylan datang dan menanyakan apakah Jamie nyaman dengan kondisi kamarnya, dalam ceritanya si Jamie sedang berlibur dirumah keluarga Dylan. Sambil mengoyangkan kepalanya kekiri-kekanan seperti sedang mengatasi pegal di leher, Jamie menjawab bahwa kamarnya baik-baik saja. Tiba-tiba saat didalam kamar, Jamie dikejutkan oleh kedatangan Dylan yang hanya ber”kolor” ria. Jamie yang selama ini menjadi teman “bermain” Dylan terkejut dan tertawa lebar sewaktu mendengar interpretasi Dylan terhadap gerakan kepala Jamie sewaktu ngobrol bertiga dengan kakaknya, “itu seperti sinyal untuk “bermain” kata Dylan.

Dikehidupan pribadipun gue seringkali mendapati cerita tentang interpretasi sinyal-sinyal yang salah (baca: konteks drama percintaan), temen baik gue pernah bilang “Wrong Signal/Sinyal Salah dan itu ada dimana-mana”. Ada satu cerita dia yang membuat gue geli dan cari pegangan karena bingung sama interpretasinya. Waktu itu dia cerita tentang seorang cewek yang jadi target hatinya, katanya cewek ini kalo ketemu dia selalu grogi, pernah beberapa kali ngajakin hang-out bareng, dan setelah sekian kali ngobrol tiba-tiba dia ketemu cewek itu sedang bersama seorang pria yang menurutnya mustahil kalau dibilang kakak atau adeknya. Sebenernya sehari sebelumnya dia sedang mengarang sebuah paragraph manis untuk sebuah “katakan cinta” (baca: kemana ya acara itu), padahal menurut gue terlalu general untuk persoalan dan pemantapan hati, namanya juga sinyal yang salah.

Lain cerita dari teman-teman perempuan gue, entah atas dasar rebound-disleksia percakapan-saraf2x yang konslet or interpretasi sinyal yang kelewat kacau, mereka udah kelewatan membuang banyak “kesempatan-kesempatan” yang kelewat kece untuk di angkut dan di beri kecupan manis. Hanya berdasarkan ngobrol-ngobrol di dunia maya, sesekali bikin pengakuan jadul tentang perasaan pertama kali ketemu, pujian-pujian maya dan sok punya banyak kesamaan, seorang teman pernah dengan lama sekali ( baca: setahun seperti seabad) menunggu seseorang yang menurut dia secara tersirat “still into her” padahal “its over”. Cewek yang satunya habis waktunya untuk menyadarkan orang yang udah bertahun-tahun disampingnya untuk kembali ke rute perjalanan cinta-serius mereka dan ujung-ujungnya baru ketauan kalo semua itu kamuflase atas sebuah hubungan di dalam “selimut” yang lain #sinyaaaaaaalan. Pengalaman teman gue yang lain (baca: i’ve been there) benar-benar membuat resah, ketertarikan yang meresahkan dan diluar imajinasi tentang lawan jenis terbaiknya. Ada yang bilang ini perihal “animal insting” di jam biologis yang sudah berdering-repetisi dan mengacaukan saraf-saraf pengindraan, still wrong signal.

Sementara di bentuk kehidupan yang lain, kehidupan gue misalnya, bukan lagi Sinyal yang Salah melainkan sinyal yang kelewat lemot dan ini teraplikasi ke seluruh lini hidup gue. Berita baik bisa jadi berita buruk, kejadian kecil bisa jadi besar dan yang gak perlu pake emosi jadi menyiapkan senjata laras panjang. Sambil ketawa dan usap-usap jidat lebar, gue berdoa saja bahwa kami masih memiliki kestabilan atas sinyal-sinyal kehidupan yang suka mendadak out of services (baca: segala aspek kehidupan) kalo enggak mungkin salah satu bentuk kriminalitas sudah ter-tattoo di jidat gue yang lebar ini ;)

 

terinspirasi dari snow patrol – signal fire

“In the confusion and the aftermath,You are my signal fire”.

 

 

adios

Cin, Bep, Say, Yang, Darl..

Cin, Bep, Say, Yang, Darl..

Malam ini sambil menunggu seorang teman kental, gue melipir ke sebuah resto dari sebuah Negara dimana semua cowok-cowok ganteng berasal (baca: berandai kalau koki dan semua pramusaji di import dari sana.. “mamamia”). Alasan utama gue masuk ke resto ini karena tempatnya yang gak ramai dan colokan listrik tersebar dimana-mana. Bless this resto, karena sangat memahami kebutuhan era digital. Sambil menunggu, gwe mencoba memesan makanan yang gak pernah gue pesan sebelumnya. Sok Hedonisme ceritanya, dengan tampang sok tau dan sok bawa duit banyak (baca: besok gue puasa total) gue memesan Italian Herb Baked Baby Potatoes dan sebotol minuman “special”.

Dalam gambaran sebuah buku menu yang tadinya gue puja-puji karena terbaca sangat fantastic dengan judul-judul dan kompensasi harga yang di tawarkan, si Baby Potatoes semakin terlihat sempurna sebagai makanan pembuka untuk sebuah gaya hidup kelas atas. Akan tetapi ketika makanan itu tersaji, rasanya gue pengen teriak “mas-mas ada tempe goreng mendoan aja gak??!!” , entah gue yang salah lihat or lidah gue yang tiba-tiba mati rasa or terlalu lemot dalam menginterpretasikan sebuah rasa yang luar negeri banget .. tapi bener, gue sangat tidak menyarankan untuk memesannya. Dan atas dasar kelaparan dan kekecewaan, gue mencoba bertaruh pada dompet akan sebuah kesuksesan pesanan berikutnya, pilihan gue jatuh ke Pizza Cream Fungi. Berdoa semoga rasanya gak bikin gue patah hati terhadap restoran kelas kakap ini.

Sambil menunggu, pandangan gue terarah nanar kearah sepasang kekasih di pojokan resto. Sebentuk pizza menjadi saksi tatapan mesra, wondering sama apa yang mereka bicarakan (baca: efek long distance relationship.. ngelus dada). Bicara soal pasangan, mendadak gue teringat pada sebuah topik obrolan tentang panggilan sayang yang konon indikasi kemesraan berawal dari sana. Biasanya sih panggilanya gak pernah lebih 5 huruf, 3-5 huruf dengan intonasi yang mendayu mengetarkan jiwa raga sekalipun sedang EMOSI panas membara.

Berdasarkan pengalaman gue dan celoteh dari teman-teman sekitar, seringnya sejumlah panggilan yang ada bersifat/identitas sok manja, menggelikan, gak pada usianya dan gak pada susunan bahasa yang benar.

Cin,

Merupakan penggalan dari kata “Cinta”, entah kenapa pengalan pertama lebih terkenal dibandingkan penggalan kedua (baca: cin – ta). Seumur-umur gue belum pernah tuh denger ada pasangan yang lagi di mabuk cinta, memanggil pasangannya dengan.. “ta.. kamu udah makan?”. Kalaupun ada pasti sebagai akibat pemenggalan nama cewek or “cewe”, Shinta, Wita, Ita, Reta, or Nita.

Hon / Hun

3 huruf ini juga merupakan penggalan yang kepleset dari kata “Honey” (baca:Madu) dan sebenarnya berdasakan EYD bahasa inggris kata ini tidak bisa dipenggal. Tapi demi unsur kepemilikan, kemesraan dan pelengkap bukti hubungan maka kata ini dipenggal di tiga huruf awal menjadi “Hon” or “Hun”. Sedikit menyentil, ada gak yah yang menggunakan “Mad” asal kata Madu (baca: terjemahan bahasa dari Honey)?? *serius deh gue pengen tau.. #LOL (baca: Mamad)

Beb,

Nah ini dia panggilan yang menurut gue paling generik ala western dan entah kenapa kalo ini diperuntukan ke cowok, selalu berhasil bikin gue turn off dalam satu detik (baca: untuk status hubungan kencan). Panggilan yang satu ini menurut gue memiliki karakter yang feminim sekali, bayangan gue selalu terarah pada sosok Marilyn Monroe yang “Beib” banget. Maaf, ini menjadi susah kalau sosok lelaki yang di cintai berubah jadi Marilyn Monroe tapi berjakun.

Say-Yang,

Panggilan yang satu ini memiliki beberapa kepribadian, Gombal-SokAkrab-Manis. Memang tergantung pada penggunaannya, sedikit saran dari pengalaman jangan pernah menggunakan panggilan Say-Yang saat PDKT dijamin itu akan berefek putus sebelum mulai kencan (baca: Say = Sayur dan Yang = Peyang ;D ). Say tanpa Yang, bisa dipakai untuk “Sok Akrab” kalo sedang punya “niat” baik. Sementara Say-Yang dalam konteks kencan merupakan panggilan generik versi pribumi yang manis pada waktunya, apalagi kalau dilafalkan dengan intonasi mendayu manis… awwww… *ketjoep.

Darl,

Kosa kata dari penggalan kata Darling menurut gue, kelewat ribet!!

Mungkin masih banyak lagi bentuk panggilan yang menunjukkan kemesraan, bisa jadi panggilannya terasosiasi dengan kelakuan-bentuktubuh-masa kecil-sok imut. Apapun itu, semoga tidak sekedar panggilan or akses memasuki dunia percintaan or sekedar eksis kalau terima telepon/sms/bbm/chat-online/ or mau naik level seperti kejadian gue hari ini yang mencoba masuk kelevel hedonisme  padahal lidah dan kantong belum sepakat.

 

Cewe: ” Beb, kenapa sih sms sama bbm aku gak dibales. Nelepon juga gak pernah..”

Cowo: “Beb… aku gak punya pulsaaaaaa….”

 

 

 

adios

Sang Mempelai

Sang Mempelai

Sebentuk cahaya berdiri dipintu ruang hati

Berbisik memanggil dan menjelma menjadi sebentuk rupa

Ia menyebutkan dan memanggilku berkali-kali

Ia memanggil keraguanku

 

Hatiku seakan menjadi pusat penggerak hidup

Aku melangkah kearahnya dengan lentera

Membawa seluruh gelora seperti kali pertama bercinta

Tak berhelai merindu

 

Dan waktu seperti kehilangan kuasa

Detiknya menghilang, berubah menjadi hamba

Aku bergumul indah dengan kasihnya

Desahanku terlafal dengan tenang tak beriak

 

Kedamaian memenuhiku

Dan cintanya membara menghidupi

Aku menantikan-Nya di setiap perjumpaan

Allah bersamaku..

 

 

adios

annaMARIANA

annaMARIANA

Dan kaca pun berserakan di lantai sebuah kamar yang bercatkan biru turqois dengan lampu yang tertutup tudung berenda membuat cahanya meredup, bukan kamarku. Sebuah kaca dimeja rias telah kehilangan bentuknya, serbuk bubuk pemutih wajah terserak dan terjatuh di lantai kamar. Jendela kamar ini terbuka lebar, angin malam bertiup kencang mengibarkan korden putih transparan bermotif kupu – kupu yang terkait rapi.

Aku melangkah perlahan di atas deretan kayu yang seringkali berdecit ingin tau kemana arah tujuan setiap langkah. Ku arahkan langkahku ke sebuah sofa yang menghadap jendela dan menaruh handphone yang tergenggam, ku naikkan ke dua kakiku dan merogoh sekotak black mentol dan lighter. Ku pandangi sebatang rokok yang terapit diantara telunjuk dan jari tengahku.  Kuarahkan pada sebentuk bulan yang membulat purnama. Bulan purnama menghiasi langit yang hitam tanpa bintang yang menjadi selir-selih dimalam hari. Sebelum kubakar, kuhirup dalam-dalam bau tembakau yang terbungkus lembaran kertas. Kuresapi semua bentuk kehidupan yang telah membuatnya begitu indah sekalipun terbakar api. Indahnya seperti bayangan senyuman Mariana yang tak bisa hilang sekalipun kukatakan dia mati dalam hidupku.

Mariana, Mari..a..na.., Maaa..ri..a..na, kusebut namanya sampai tiga kali sebelum akhirnya dia terhetak dari mimpi yang tidak bisa ku tebak dalam nyata. Matanya membelalak seakan tak mengenal kehadiranku dan nada suaranya seakan tak pernah kukenal. Dia menanyakan kepadaku bagaimana aku bisa ada dan terbaring bersamanya. Belum lagi kukatakan padanya, dia menanyai aku kembali dengan berbagai pertanyaan yang bertubi seperti saat aku memikirkan untuk menghampirinya malam ini. ”tidak, aku harus melarang diriku untuk datang padanya”, ”mungkin, mungkin dia tidak sendiri”, ”iya, aku akan datang bersama sejuta rindu”, ”Mariana, mariana menungguku”, ”Cuma aku yang bisa menyelamatkannya”, ”Mariana menungguku, Mariana menungguku”, ”tidak, bukan aku, tidak, aku tidak bisa, tidak!!”, ”Milikku!!” dan banyak lagi, semua pikiranku merasa dan memaksaku untuk datang padamu Mariana.

Aku masih terpaku dengan harumnya tembakau ini, seperti saat aku terpaku pada bau wangi tubuhnya. Bukan bvlgari, calvin klein, boss, channel atau apapun yang dapat menyembunyikan wangi alami dari setiap insan. Wanginya seperti kemuning yang tertanam di depan jendela kamarku, segarnya seperti air yang mengalir dari tebing-tebing Malela dan hangatnya seperti gelas-gelas teh poci yang tertuang teh hangat. Hangatnya selalu membawa lamunanku menelusuri lekuk tubuhnya yang sintal dan jenjang. Jantungku selalu berdegup memburu mendekapnya.

Catatan desember tahun lalu, untuk kali pertama dia dalam dekapanku. Saat itu seorang pria menghancurkan mimpinya untuk menjadi seorang gadis metropolis, di sebuah ibu kota yang tidak pernah dikenalnya. Waktu itu, dia menangis dalam pelukku dan berteriak ”aku pelacur, aku pelacur…” dan sambil memandangku dia kembali berteriak ”mereka melempariku dengan beratus uang ..” dan di isakkan terakhir tangisnya dia mengatakan ”aku pelacur…”. Aku mendekapnya.  Sejak dekapan itu, Mariana selalu ada dalam dekapan tak berdayaku. Aku menjadi tempat teraman satu-satunya, tempat yang tak akan meninggalkannya dengan lembaran-lembaran uang yang terlempar kelangit dan jatuh diatas tubuhnya yang sintal. Mungkin aman dan mungkin nyaman, dia terus ada di dekapanku dan membawaku pada dekapan mesranya yang tak berhelai benang. Sesekali dia menangis dan disaat bersamaan dia melepaskan gejolak alamnya yang tak beridentitas. Dia membawaku jauh, hingga aku pun tak mengerti mengapa aku menjadi terdekap oleh hidupnya.

Aku melepaskan sebatang rokok dan harum tembakau yang membawa lamunanku dari indra penciumanku, kunyalakan lighter dan membakarnya. Disetiap hisapan, ku sebut namanya kembali ”Mariana.. Mari..a.na.. Maria..na..” dan membayangkan setiap mimik wajahnya yang tak bisa lepas dari ingatanku. Tetapi malam ini, aku seperti tidak mengenal mimik wajahnya. Aku hampir tak mendapati sedikitpun rindu yang tergambar pada parasnya yang hangat. Aku mencari rindu itu hingga lelah dalam hitungan detik jam yang berdetik keras di dinding berwarna hijau turqois itu, frustasi membelengguku dan hanya ketakutan yang ku dapati pada raut wajahnya.

Kuturunkan kedua kaki ku dari batas jendela, ku rubah arah sofaku membelakangi jendela dan kuhadapkan pada ranjangnya yang berkelambu. Kulihat cahaya bulan masuk tanpa menunggu pintaku, cahayanya menggapai sebentuk tubuh yang terbaring di atas ranjang. Kupandangi tubuh itu dengan seksama, aku mengenalnya. Waktu pernah membawaku untuk mengenal dan merekamnya dalam ingatanku.  Aku menghisap kembali sebatang rokok yang telah terbakar setengahnya, ku hisap sedalam-dalamnya dalam mata terpejam. Dan ketika kuhembuskan, kutarik ingatanku ke beberapa waktu sebelumnya. Aku tak menyangka Mariana akan terkejut, berteriak dan menanyakan banyak hal secara bertubi, ia bahkan bangun dengan tergesa dan kembali berteriak. Aku tak mengerti, hampir setiap waktu kami bertemu bahkan dalam berkali – kali keintiman. Tapi kali ini ia terkejut luar biasa seperti melihat perampok yang akan membahayakannya. Aku berteriak dalam bisikku ”ini aku sayang..”. Mariana kembali berteriak dan teriakkannya membuatku bingung ”apa yang kamu inginkan dariku!!! Apa..?”

Aku mencoba menenangkanya dengan memegang bahunya, namun ia tiba-tiba saja menepis dan berdiri diatas ranjangnya. Sementara aku terduduk sambil mencoba menenangkannya dengan memegang kedua kakinya, ia mencoba melepaskan diri dan terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh dan berteriak dalam ruang yang redup dan menimpa seseorang yang tertidur tanpa nafas dan gerak. Aku meraihnya dan kutidurkan kembali di samping seseorang yang dibeberapa jam yang lalu meminta sebuah kebahagiaan dari seorang Mariana. Aku salah, bukan hanya malam ini, kemarin malam, kemarin- kemarin malam, dan banyak malam dimana aku sendiri diantara malam-malam itu.

Aku terhentak dari tatapanku karena teriakan Mariana, ”kamu membunuhnya? Jawab aku..”. Ia berteriak berkali – kali dengan ucapan dan intonasi atas pertanyaan yang sama. Aku kehilangan kendali, aku mencoba kembali pada alasan mengapa aku menemuinya malam ini, tetapi aku berteriak dan mengguncang – guncangkan tubuhnya di atas ranjang. Mendadak keseluruhan alur cerita menjadi berantakan, ingatanku tentangnya tak beralur, sekilas aku mendapati semua peristiwa manis diatas ranjang ini, senyumnya yang melekat, sesekali terngiang tawanya yang khas dan berujung pada kali pertama ia ada di dekapanku.

”aku merindumu mariana..” aku berteriak berkali-kali dan kudapati ia berteriak sambil menangis, namun teriakannya menjadi tak jelas ditelingaku. Ia berteriak lagi, lagi dan lagi hingga aku tak bisa mendengarnya. Aku mendekatkan teligaku pada mulutnya yang terbuka lebar, aku tak mendengar apapun, lalu kupandangi wajahnya. Matanya yang bulat, memandangiku dengan kosong, raut wajahnya kaku memandangku. Aku melepaskan cengkramanku, kulihat dalam redupan cahaya jejak tangan menghiasi lehernya. Aku tidak sengaja mencengkram lehernya dan terlalu mencengkramnya. Aku bangun dari atas tubuhnya dan turun dari ranjangnya. Aku berdiri dan menghadap ranjangnya, aku melihat bayanganku tertangkap pada sebuah kaca cermin yang berada di dekat ranjang. Tanpa sadar, aku mengambil sebuah benda yang ada di meja kecil di samping ranjang dan melemparkannya dengan kencang pada sebuah kaca cermin. Sebuah kotak kaca berisi bedak tabur pecah terurai bersama pecahan kaca cermin. Serbuk – serbuk itu melayang dan jatuh.

Aku tertahan dalam diam, memandangi tubuhnya yang di sinari cahaya bulan, rokokku habis sudah bersamaan dengan ingatanku di beberapa waktu yang lalu. Aku merogoh kembali kantong untuk menyambung keinginanku pada sebatang rokok, tapi aku tak menemukannya. Ku pikir pasti terjatuh sewaktu menggeser sofa dan aku hanya menemukan handphone-ku. Tadinya aku ragu mengambil dan mengeluarkannya, namun akhirnya aku mengeluarkannya dan membaca kembali semua pesan-pesan yang tersimpan rapi dari Mariana. Aku memilih menghapusnya satu persatu dan ketika membaca pesan yang terakhir, aku terdiam, aku merasakan kembali pikiran-pikiranku yang bertubi dan membawaku pada malam ini.

Pengirim : Mariana

Waktu: 22:22

“Anna, jangan tunggu aku lagi..”.

Hapus.

 

 

 

-adios

Dari Januari

Dari Januari

“Aku tau bahwa semuanya sudah berhenti, bahkan hari ini bukan lagi milik kita. Bukan karena kita menyerah, tapi karena kita akan lebih bahagia dengan jalan kita masing-masing”.

Seorang pramusaji menghampiri kami berdua dan menghadirkan 2 botol bir kesayangan yang selalu ada di setiap pembicaraan empat mata. Dia, Rio duduk berhadapan dengan ku memainkan handphone-nya yang diam, membolak-balikan kotak rokok dan sesekali menyalakan lighter tanpa membakar apapun, mengusap rambutnya yang berpotongan 1cm dengan sesekali memandangku. Aku tau kami seperti buih-buih yang ada dalam sebentuk botol yang gasnya memenuhi rongga leher botol dan memaksa keluar dari tempatnya.

Tadi, dalam perjalanan menuju tempat ini, untuk pertama kalinya cerita-cerita di beberapa tahun yang lalu seakan terproyeksikan dan mengalur dengan baik dalam lamunan, seakan menemani pengemudi yang terjebak di kemacetan Bandung. Sepertinya tahun-tahun yang terlewati  menjadikan kami pemain yang luar biasa untuk serangkaian episode drama, cerita-cerita yang tersaji pun membuat senyumku sesekali mengembang, dahiku berkerut, celoteh kesal, kadang airmata menggenang dan menghela napas panjang.

Masih kuingat, hari pertama yang menyebabkan kami bisa bersama sampai dengan hari ini. Waktu itu, Rio adalah salah seorang pemanjat tebing senior di sebuah klub indipenden di bandung dan aku hanyalah seorang pengantar barang titipan seorang teman dekatnya yang sengaja mampir untuk melihat seseorang yang menjadi target incaran sejak kuliah, Norman namanya. Seingatku, aku justru gagal bertemu Norman, sebaris SMS mengatakan bahwa dia batal latihan tanpa keterangan lebih lanjut. Selanjutnya, sederet nomor handphone mempertemukan dan akhirnya membuat aku dan Rio memutuskan untuk melewati hari bersama-sama.

Di awal, pertengahan dan sampai sekarang, perjalanan kami tak pernah mudah. Banyak hal bahkan terlalu banyak hal yang harus kami kompromikan hingga sering kali kami harus berhenti, mengisi kekosongan dengan orang lain seakan menghibur diri, mencari hal-hal yang tidak pernah kami dapatkan dan akhirnya kami kembali dan mengulangnya dari awal. Waktu itu orang-orang terdekat kami mengatakan, ”apa sih yang ada di diri kalian sehingga tak ada satupun yang bisa di jadikan satu”, bahkan keluarga kami juga lelah dan menjadi biasa dengan melodrama yang kami sajikan ke permukaan. Hingga akhirnya lelah dan semangat untuk sesuatu yang lebih baik adalah alasan mengapa sampai pada akhirnya kami menjatuhkan hari baik untuk benar-benar menjadi satu. Sebuah keseriusan, kami tandai dengan sebuah acara pertunangan besar-besaran, cincin yang melingkar, akses memiliki yang bukan lagi merupakan budaya timur dan kehidupan pasca pernikahan yang ditarik ke depan. Mereka, ibuku, mengaharapkan segala kebaikan dari ini semua.

Dan semua peristiwa setelahnya, perbedaan dan pertengkaran diantaranya, termasuk jarak yang ada bukan membuatnya menjadi lebih baik. Aku dan Rio terhantar dalam waktu yang menggelisahkan dan tidak memberikan jawaban akan masa depan yang merupakan harapan dari banyak orang-orang disekeliling kami.

Waktu terus bergulir, masih di sebuah bar bersama minuman kesayangan, kami masih duduk berhadapan dan belum tau harus memulainya dari mana karena semuanya seakan ingin diucapkan diwaktu yang bersamaan. Mungkin kami memikirkan hal yang sama, mungkin menunggu waktu yang tepat atau menunggu botol-botol berikutnya. Aku tidak bisa lagi menunggu.

”Rio..” aku memanggilnya, memecahkan konsentrasinya dan menarik perhatiananya ke arahku. Dia memandangku dan mengatakan hal yang tidak pernah kuduga, ”aku sudah lama merasakannya, ini tidak akan berjalan lebih baik dari apa yang kita berdua harapkan. Aku sudah tidak ada lagi disitu selain memenuhi kewajibanku padamu, ibumu dan keluarga besarku. Dan aku tau bahwa kamu tidak sepenuhnya bersamaku belakangan ini, akupun tidak tau caranya mengembalikan semua perasaan yang dulu pernah ada.”Aku diam, Rio bicara seakan sudah tidak bisa lagi menyimpan dan memilah bagian mana yang akan menyakiti aku ataupun hatinya.

Pramusaji itu datang kembali, menanyakan apakah kami akan memesan kembali, pesanan terakhir katanya. Aku tau, malam ini akan menjadi panjang untuk kami masing-masing dan bukan juga ditempat ini. Ku katakan pada pramusaji itu untuk menghitung pesanan dan membawa selembar ratus ribu ke kasir. Aku meneggak tegukan terakhir sambil mencuri wajah Rio yang menatapku dengan kosong dari sudut mata.

”selesai” Aku meletakan botolku dan berdiri meninggalkannya.

 

Besok, aku hanyalah aku

Akhirnya, aku memulai semuanya tanpamu

Percaya bahwa matahari akan menyilaukan dan membuka mataku

Aku tidak lagi menunda, bertahan dan hilang

Aku adalah milikku dan bahagia

Hari ini untuk pertama kalinya diam untukmu

 

 

-adios-

Kristal

Kristal

Dan hujan besar yang menemani kelahiranku disaat ibu lemas tak berdaya. Mereka, orang-orang yang ada disekitar gerobak tua memandang kami berdua dengan raut wajah yang tidak mengerti dan basah kehujanan. Diantara kerumunan itu darah seorang ayah yang mengalir di tubuhku tercium diantara orang-orang itu dan seakan menjadi salah satu diantara mereka, dia mengajak beberapa orang untuk mengantar aku dan ibu ke rumah sakit terdekat. Dirumah sakit, aku terpisah dari ibuku namun justru itu kebahagiaan pertama yang bisa kumengerti. Seorang suster tua yang setiap jam 6 pagi datang untuk memandikanku dan menggendongku adalah kasih terbesar. Dia meninggal di hari ke 7 di jam 7 pagi, setelah menyelesaikan harinya bersamaku. Aku tau sejak pertama dia menatapku dan mengatakan “bahwa hujan takkan lagi membasahiku dan memaksaku mandi seperti disaat kelahiran, dia menandainya di 7 hari”. Satu hal yang kusesali, aku masih tertalu kecil untuk mengatakkan padanya untuk tidak datang di hari ke 7.

Kemudian setelah beberapa lama aku terjamin di sebuah Rumah Sakit karena ketidak sanggupan ibuku untuk membawaku pulang, seorang lelaki berkacamata berperut gendut dengan bulu dada yang lebat terpamer dari lolosnya kancing pertama dan kedua dari kaitannya datang menyapaku dengan bengis “apa-apaan ini!! dasar Lacur, dia buat aku mabuk sendiri!!”. Ibuku datang tergopoh bersama seorang suster, setelah mendapat deringan panggilan dari lelaki yang bau badannya menyekakan dua rongga hidungku, aku mencium kematiaannya di hari ke 365 setelah ia berkali-kali menyiksa dan memperdayai ibuku di atas sebuah ranjang. Dijam 3 pagi, setelah melepaskan borgolan ibu, jantungnya akan berhenti dan dia akan mati dalam keadaan tanpa sehelai benang.

Disebuah kotak yang beroda, ibu menempatkan aku dibelakang di sebuah box bayi. Aku terikat disana, mereka tak memperdulikanku, mereka saling berteriak dan menyebut namaku sebanyak 3 kali, Kristal. Kami bertiga hampir saja menabrak sebuah truk semen yang berada di depan kami, lelaki itu mencoba mencekik ibu dengan dengan satu tangannya yang bertattoo tengkorak. Aku menangis sekencangnya, tetapi emosi kedua orang yang ada di depanku seakan membentengi telinga mereka. Tak lama aku diam dan tertidur karena lelah. Dalam tidur aku merasakan tangan seorang suster tua itu mendekapku dan mengusap punggungku seperti saat aku tersedak.

Di hari-hari berikutnya, di sebuah loteng sebuah rumah aku dirawat oleh seorang wanita jawa, di ajarinya aku memanggilnya si mbok, aku tau hanya dia yang akan ada dan merawat ku di 14 tahun kemudian. Ibuku, hanya sesekali datang ke loteng tempat aku bertumbuh dan menatap pergantian hari. Jendela loteng adalah sahabat terbaikku setelah si mbok dan suster tua. Jendela loteng adalah tempat terbaikku untuk menatap ibuku yang dipeluk mesra oleh lelaki yang berbeda setelah kematian lelaki yang parfumnya menyekakan kedua ronga hidungku. Aku pernah bertanya ke si mbok di suatu senja ketika langit begitu merah dan ibu berdiri di depan merah menunggu seseorang dengan bibir yang diwarnai oleh pewarna merah darah “mbok, apa ibu tau kalo mereka tidak pernah membayar dengan harga yang pantas  dan mengapa ibu tak pernah mau berhenti? ” dan si mbok berkata sambil mengelus rambutku “itu agar mba kristal bisa sembuh dan tidak tinggal di loteng lagi”.  Aku selalu bingung dengan kalimatnya, aku tidak pernah merasa sakit sedikitpun.

Aku tak tau arti sebuah umur, tapi yang aku tau sejak aku bisa menggunakan pensil kayu, coretan pergantian hari di dinding sudah sebanyak 5110 kali, si mbok pun juga tidak pernah bercerita apa arti umur dan apa arti nasi kuning yang dia antarkan di setiap 365 hariku. Aku ingat sekali, di setiap hari ke 365 hariku si mbok selalu mengatakan “semoga yang terbaik selalu ada di hari-hariku” dan yang aku tau memang hanya si mbok lah yang kemudian menjadi yang terbaik di hari-hariku. Nasi kuning yang paling ku suka adalah nasi kuning di hari ke 365 yang ke 8, hari itu aku memakannya dengan suasana hati yang riang, aku tau pria yang ibu tunggu tidak akan datang. Tadi pagi, pria itu dan bersama 665 orang lainya jatuh dalam penerbangan menuju Surabaya.

7 hari sebelum kematiaannya dan untuk pertama kalinya ibu duduk diranjangku dalam keadaan gelap gulita. Seseorang dengan langkah dan nafas yang berat datang mendekati kami berdua, ia datang dan mengucapkan sesuatu ketelinga ibu “jadi ini kompensasinya” dan ibu mengatakan “aku tidak punya apapun selain dia, minggu depan setelah aku selesai dari masa kewanitaanku, aku akan datang dan membayarnya”.Malam itu, aku benar-benar tidak dapat melihat apapun karena mataku tertutup rapat serapat mulutku, yang aku tau lelaki yang ada bersama kami tidak akan pernah kembali dan aku akan merasakan kekecewaan yang mendalam tentang seorang Ibu. Malam itu sesuatu telah melukai bagian dimana aku selalu menggunakannya untuk mengeluarkan air dari tubuhku. Sesuatu telah menekannya hingga aku hilang dengan sakit yang membuat darahku mengalir ke ujung kepalaku dan terbangun dalam keadaan tidak mengerti tentang sebercak darah yang sudah mengering di kain pembungkus kasur. Aku berteriak kencang memanggil si mbok dan seakan dia sudah mengerti, dia datang sambil membawa kain pengganti.

Satu malam sebelum hari ke 365 yang ke 14, aku mendengarkan si mbok menembang sebuah nyanyian jawa. Ini pertama kalinya dia menyanyi, suaranya indah sekalipun ia harus berkali-kali batuk. Diakhir nyanyiannya, dia mengatakan bahwa besok adalah hari 365 yang ke 14 dan besok adalah hari baik, jadi untuk hari yang baik dia menggatikan nasi kuning menjadi sebuah lagu jawa yang berisikan sebuah kasih dari romo. Katanya, romo adalah panggilan orang jawa untuk si pengasih dan pemilik dari jagat raya, termasuk aku. Salah satu syair yang di terjemahkan oleh simbok “datanglah kepadaku karena kasihku tak berkesudahan“. Dan paginya, ketika terbangun aku melihat si Mbok duduk berselonjor di kursi kesayangannya, wajah si mbok memucat, matanya tertutup seakan tertidur. Ku beranjak dari kasurku dan mendekatinya, aku tau dia pergi saat pergantian hari saat mimpiku tentang si mbok yang masih bernyanyi. Aku tidak tau bagaimana berterima kasih akan cintanya selain mencium tangannya dan setelah itu aku berteriak kencang memanggil ibu.

Hari-hari berikutnya, ibu menjadi sering memperhatikanku, kukatakan sering karena bukan hanya tiap pagi dia datang ke loteng dan melihatku, dia ada di setiap waktu makan  dan malam sebelum dia meninggalkan ku untuk bertemu seorang pria. Dia menanti lelaki yang akan menyakitnya. Dalam kesendirianku, akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar dari loteng tempat ku selama ini tinggal. Aku berjalan perlahan menuruni tangga, dan perlahan melihat isi rumah selain lotengku. Di ujung tangga, aku berteriak kencang, aku melihat seseorang di sebuah benda. Orang itu bergerak-gerak sama dengan gerakanku, tak lama aku sadar bahwa itu adalah aku. Aku beraba benda itu seakan meraba diriku sendiri, aku mengamati tubuhku yang hanya setinggi dua langkah kaki orang dewasa, bermata sipit, berjidat lebar berkulit putih, bertubuh lebar dan berlesung pipit. Disamping benda itu ada sebuah gambar ibu, aku bergumam dalam hati, wajahku menyerupai dia. Rambut kecoklatanku pun juga menyerupai rambutnya.

Usai menatap tampilan bentuk tubuh dan rupa ku, aku berjalan dan meraba semua benda yang ada di rumah, aku berjalan ke arah pintu yang terbuka. Isi kamarnya penuh dengan kain yang si mbok pakai, aku meraba lembutnya kain pembungkus kasur dan berjalan ke sudut kamar. Di sudut kamar, aku mendapati meja dengan banyak gambar, aku melihat si mbok disana. Si Mbok duduk manis berpakaian Jawa ditemani seorang pria berkumis lebat. Di gambar itu tertulis sebuah tulisan tangan “pernikahan 1940″. Disampingnya lagi, sebuah foto si Mbok sedang menggendong seorang anak perempuan, entah berapa usianya, tapi sudah cukup besar, wajahnya seperti ibu. Disampingnya lagi ada gambar ibu bersama seorang pria, dan pria ini seperti pria yang membawa aku dan ibu kerumah sakit sewaktu aku dilahirkan saat hujan lebat. Kali pertama memandangnya aku tau darahnya mengalir di tubuhku, ini ayahku dan aku tak tau mengapa bukan dia yang menjemputku kembali dan mengapa aku tak pernah melihatnya diantara pria-pria yang menjemput ibu. Dia adalah satu-satunya yang tidak aku tau.

Aku meninggalkan meja itu dan berjalan kearah meja yang berisikan botolan-botolan yang baunya menyekakan dua rongga hidungku. Dibawah meja itu, aku melihat sebuah benda yang terbuka, benda itu teraba lembut dan berbentuk segiempat. Entah mengapa, aku ingin sekali mengambil sebuah benda yang tercium seperti bau dari teralis jendela lotengku. Benda itu sepanjang telapak kakiku, berwarna hitam memiliki pegangan dan ditengahnya seperti kaitan yang tidak mudah di tekan oleh tangan kecilku. Aku memutuskan untuk menyimpannya tanpa sepengetahuan ibu dan kembali berlari ke atas, keloteng dimana aku bisa menikmati hari melihat duniaku dari jendela loteng dan untuk pertama kalinya aku melihat ibu pulang cepat. Aku senang sekali dengan benda ini.

Malam berikutnya, aku tak melihat ibu di luar pagar rumah, seperti biasa menunggu pria. Malam ini seperti malam dimana aku tau bahwa ia tidak akan bersamaku lagi, malam dimana seharusnya aku memberi tahu ibu untuk tidak ada dirumah, tidak ada dikamarnya dan tidak ada dikamarnya. Kupikir, aku belum terlambat untuk mengatakannya, aku melihat benda yang ku simpan dari kamar ibu dan berlari turun meninggalkan lotengku. Aku tidak melihat ibu setelah menuruni tangga, aku melihat tidak ada yang berbeda, sepi seperti malam dimana aku meninggalkan loteng untuk pertama kalinya. Pintu kamar ibu pun terbuka sama seperti saat itu, namun perasaanku memaksaku untuk melangkah mendekati pintu kamar ibu. Disaat bersamaan jam besar yang berada disamping pintu kamarnya berdentang sebanyak 12 kali menemani langkah ku. Di dentangan yang terakhir aku melihat ibu bersama seorang pria bertubuh besar berperut bucit seperti lelaki yang menjemputku dari rumah sakit, mereka berdua sudah menanggalkan pakaian dan membuangnya ke lantai.

Aku berdiri lama di depan pintu, memperhatikan ibu dan lelaki itu, ibu berlaku seperti hewan berkaki empat dan lelaki itu berada di belakangnya membawa ikat pinggang dan memukulkannya ke arah ibu. Ibu berteriak dan setiap teriakkannya membuat aku teringat akan sakitnya sebuah benda yang menekanku dan membuatku berteriak kencang memanggil si mbok karena sebercak darah kering di kain pembungkus kasurku, teringat juga akan bisikan lelaki yang berlangkah berat ditelinga ibu. Aku tidak tahan melihat dan mendengarnya, jantungku berdetak kencang, aku berjalan mundur, pelan-pelan dan duduk di samping jam besar. Aku diam sambil memegang benda yang ku ambil dari kamar ibu. Aku bergetar resah di samping jam besar dan terhentak di dentangan jam, kuputuskan di dentangan ke tiga aku akan kembali dan masuk kekamar ibu.

Aku berjalan kembali ke arah pintu kamar ibu, pintunya masih terbuka tapi cahaya lampu sudah dimatikan. Dengan hati yang tak tenang dan jantung yang berdetak kencang aku berjalan mendekati kasur ibu, samar-samar aku melihat tubuh pria itu ada di sebelah kiri ranjang ibu dan ibu disebelahnya, mereka berdua tidak menggunakan pakaian apapun, aku melihat dan menginjak pakaian mereka yang di buang dilantai. Pria itu mendengkur dengan kencang, mungkin kalau lebih keras lagi lampu gantung ibu akan jatuh menimpa mereka berdua. Sementara ibu tak bersuara sedikitpun, sewaktu kudekati, wajahnya ditutupi oleh sebuah bantal dan tangan kanannya jatuh menjuntai. Aku mencoba mengambil bantalnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku kehilangannya di dentaman jam yang kedua.

Pria itu mendengkur dengan keras, mengembalikanku dari beberapa saat kehilangan ibu ku. Aku berjalan kearahnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, bau tubuh dan nafasnya menyeka dua rongga hidungku. Kudekatkan benda yang diambil dari kamar ibu ke kepalanya yang tak berambut, kukecup keningnya sebelum dengan segala kekuatanku menarik kaitan yang ada di tengah benda ini. Aku tak tau benda apa yang ada ditanganku, aku tak pernah melihat isi dunia selain dunia lotengku, tapi aku yakin benda ini akan memaafkan, membebaskan dan menghentikan pria ini. “dooorrr…” aku terhentak dan menyenggol sebuah lampu tidur disisi tempat tidur, ku biarkan lampu itu terjatuh dan pecah kemudian berjalan keluar kamar ibu dan menyanyikan sebuah tembang jawa hadiah dari si Mbok “datanglah kepadaku karena kasihku tak berkesudahan“. Aku kembali keloteng, menunggu matahari dari balik jendela, yang terakhir karena besok seseorang akan membawaku.

Aku kristal setelah indigo

 

adios

berhenti

berhenti

aku memanggilmu hai cinta yang tak pernah tiba

cinta yang ku tunggu selayaknya indah sang senja

cinta yang mendetamkan jantung sejak kali pertama

kali pertama manismu berhenti di hati

 

Hai cinta yang kupanggil dari alam bawah sadarku

cinta yang membawa kemerahan senja

cinta yang mengusik lamunan dan mencurinya dari waktu

waktu yang kemudian kembali dalam kosong

 

aku yang memanggilmu hai cinta

senjamerahmu telah berganti pagi yang menguning

cintamu yang kosong merontang dihati

cintamu yang membuatku berhenti untuk merasa

 

setelah sekaleng 4,9%